RSS

You can replace this text by going to "Layout" and then "Page Elements" section. Edit " About "

Tampilkan postingan dengan label catatan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label catatan. Tampilkan semua postingan

Bersih v.s Kotor

baru kali ini aku beres2 halaman depan kamarku sendiri....mungkin ini hikmah aku pindah ke rumah kontrakan...segalanya harus di urus sendiri...hahahaha!!! Yah meskipun harus kering ne tenggorokan gara2 beres2 tadi, padahal lagi puasa, hahahaha, tapi ada beberapa hal yang aku pelajari..

pertama, bersih itu lebih enak dilihat chuy...daripada kotor...meskipun belum selesai sepenuhnya tapi setidaknya ada perbedaanya...coba deh dilihat ne...
 Foto Sebelum aku bersihin...

halaman depan sebelum aku bersihin

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Hampa

Di bulan Ramadhan ini, setiap hariku terasa hampa. Jadwal tidak beraturan. Selalu tidur setiap habis sahur, hingga terkadang kebablasan ga shalat subuh. Shalat lima waktupun jarang tepat waktu. Kehidupanku kacau.

Apa sebenarnya yang terjadi padaku?hidupku terasa hampa!!! Mungkini ini karena aku tak dekat dengan_NYA. semoga di sisa waktuku ini aku bisa kembali kepada-NYA dalam keadaan yang tentram....

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Kapan kematian menjemputku?

Kecelakaan pesawat Polandia, penumpangnya adalah pejabat-pejabat penting Polandia, termasuk Presiden dan Ibu Negara. Kematian yang tak diduga. Entah ini berbentuk konspirasi atau murni kecelakaan. Tapi yang pasti, kematian ini pasti tidak pernah terkirakan oleh sang Presiden.

Aku pun begitu. Kita pun sama. Tak ada yang tau kapan kita di ambil olehNYA. Bisa saja satu detik kedepan kita mati. Satu menit, satu jam, satu bulan, atau bahkan satu tahun lagi kita akan mati. Tak ada yang tahu itu.

Persiapan menuju kematian, kadang tak terpikirkan sama sekali. Setiap saat yang aku lakukan adalah hal-hal yang mungkin sia-sia, terlalu mengejar materi dan derajat. Mungkin itu penting, tapi hanya penting dalam kehidupan dunia. Kehidupan setelah kematian tidak aku fikirkan. Tapi aku percaya bahwa itu ada.

Sudah saatnya aku berpaling dari kehidupan yang sekarang ini.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Milyar-an uang itu mereka pergunakan untuk apa?

Seandainya aku memiliki banyak uang...ingin banget rasanya bagi2 bareng orang-orang miskin itu....tepi kenapa "mereka" bisa menghabiskan bermilyar2 uang hanya untuk menggelar rapat besar?mampu menghabiskan beratus-ratus juta untuk bersilaturrahmi?aku belum dapat mencerna dan memahami semua itu. Entah ini hanya akibat dari kekerdilan fikiranku atau hanya sebuah kerisihan semata karena aku juga turut memanfaatkan rapat besar itu?atau hanya orientasiku yang selalu mengukur semua dengan uang?

Terlalu megah, itu saja pikiranku. Kenapa tidak mencoba dengan sederhana saja? Sederhana tapi bisa maksimal dalam menghasilkan. Ah, tapi lagi-lagi aku belum begitu matang dalam konsep ini. Aku sebenarnya ingin sederhana saja....tak ada lagi orang miskin di negara ini, smentara yang lain dengan enaknya menghamburkan uang. Tapi, itu hanya selalu ada pada dataran idealismeku saja...kapan itu menjadi realitas?aku tidak tahu...

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Peranku

Terkadang aku merasa aneh dengan diriku sendiri. Aku merasa peranku sangat belum maksimal. Bahkan terkadang aku ingin berperan dalam semua hal. Padahal seharusnya aku bisa fokus. Yah, karena setiap orang harus punya peran masing-masing. Dia tidak akan mungkin bisa untuk berperan dalam semual hal.

Yang aneh pada diriku, aku belum bisa menentukan kemana aku akan melanjutkan sisa perjalananku ini. Aku kuliah di Pertanian, tapi aku di Mu'allimin malah ngurusi olahraga. Organisasi yang aku ikuti secara intens malah IPM yang memang mengurusi pelajar. Di IMM pun aku tidak terlalu berperan. Di POPMASEPI? ah, aku belum bisa berbuat banyak, hanya sebatas permainan politik, belum pada taraf berdialog maupun berperan aktif dalam pengembangan keprofesian agribisnis dan sosial ekonomi pertanian. Yang makin aneh lagi, bisnis yang sekarang aku geluti adalah bidang percetakan dan konveksi. So, sbenernya jalanku ini menuju kemana? dan akhirnya peranku tidak maksimal dalam kesemua hal itu.

Aku sebenernya tau bagaimana pemecahannya, bahkan aku sering bicara ini ke adik-adik angkatanku. Hanya saja, ternyata semua tidak semudah yang kita omongkan. Lagi-lagi memang perlu kebulatan tekad dan keberanian yang besar untuk mengambil keputusan yang besar. Suatu saat, aku memang harus fokus...entah kapan aku belum bisa memutuskan sekarang. Memerlukan jiwa yang besar dan kerelaan hati.

Hanya saja, sekarang aku berfikir bahwa aku harus fokus dunia pertanianku. Itu memang yang seharusnya aku jalani. Hatiku serasa terpanggil untuk bisa berperan disana. Bukan kepengen lebay atau gimana, tapi entah kenapa ketika berbicara tentang pertanian, aku selalu merasa aku harus berperan disana.

Suatu saat, entah besok atau nanti beberapa menit lagi, aku akan meninggalkan IPMq, melepaskan statusku sebagai IMM, dan merelakan bisnis percetakan dan konveksiku dipegang dan dikelola oleh orang laen. Kapan itu saatnya? aku tak tau, yang pasti harus secepatnya. POPMASEPI, MPM Muhammadiyah, agribisnis dan dunia pertanian...mungkin disitulah jalanku. Semoga aku bisa bertahan dan berperan optimal disana. Amiiiinnn.

Namun...aku akui...waktu bisa mengubah jalan pikiranku.
(bimbang)

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Jogja-Solo feat PramEks

Baru kali ini saya naik prambanan ekspress, rasanya enak juga seh dibanding dengan kereta yang udah pernah saya naiki (padahal baru naek kereta 3 kali, hehehehe). Tempat duduknya kayak yang di bus TransJogja (meskipun belum pernah naik juga seh), saling berhadapan gitu dengan punggung kursi menempel di dinding gerbong. Pintu Keretanya juga ditutup, padahal pengen ngadem di deket pintu layaknya kenek bus kota sambil menikmati hamparan luas pertanian di rute jogja-solo ini (narsis dikit berhubung anak pertanian, hehe). Walhasil ya cuma duduk aja sambil baca koran atopun ngobrol bareng temen, coz saya ke solo bareng temen saya dari Prodi Agroteknologi FP UMY, klo saya dari Agribisnis. Tapi PramEks ternyata adem juga dibanding dengan kereta bisnis jurusan jogja jakarta, suananya juga lebih nyaman. bersih pula dan juga ga pengap. Saya pikir PramEks setara dengan kelas ekonomi, hehehe. Yeah..., at least, naik PramEks enak juga daripada naik bis. Pemandangannya lebih asyik cing, hahahaha.

Oia satu lagi, saya menjadi lebih cinta dengan bidang akademis saya, ternyata dunia pertanian menjadikan hati lebih sejuk. Nyaman rasanya bisa melihat hamparan lahan yang luas yang ditanami padi, jagung, dll. Indah, Ternyata potensi kita sangat besar, hanya saja pemanfaatannya belum optimal. Jadi pengen balik kampung ne, hehehehehe. Semoga saya bisa berdamai secepatnya dengan bidang akademis saya. Amiin..

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Lagi-Lagi Kasus Bobroknya Hukum di Indonesia

Republika 2 Februari 2010 dan 3 Februari 2010 menyoroti tentang keadilan hukum. Tentang beberapa kasus hukum yang tidak begitu adil menurut saya juga. Kasus pertama menyoroti tentang vonis siswa SD yang menyengatkan lebah akhirnya divonis bersalah meskipun hukumannya hanya dikembalikan kepada orang tua. Kasus kedua memberitakan tentang vonis bersalah kepada tertuduh pencuri buah randu sebanyak 4 orang dan dihukum 24 hari penjara dikurangi masa tahanan. Kedua kasus ini menambah deretan panjang kasus-kasus lain tentang keadilan yang mungkin sudah tidak ada di negara ini. Para majelis hakim dengan entengnya memvonis terdakwa yang tidak mempunyai akses kemana-mana tapi melenggangkan terdakwa yang kaya dan punya akses.

Kasus Mpok Minah yang dihukum karena mencuri dua butir buah kakao. Kasus petani yang dihukum karena mencuri buah semangka. Kasus pemuda asal kota Serang yang terancam hukuman 4 tahun gara-gara mencuri sebuah kaus bekas. Itu sederetan kasus yang membuat hukum di Indonesia menjadi surga bagi para penjahat kelas kakak (baca: para pejabat penjahat). Kasus Robert Tantular yang hanya divonis 5 tahun padahal sudah merampok uang negara 6,7 triliun.

Oalah jan, saya tidak ngerti dengan apa yang terjadi dengan negara ini. Apa yang bisa dilakukan sama Pak Patrialis ya tentang kasus ini? Ya paling hanya melakukan kunjungan. (Buat Pak Patrialis, maaf klo anda tersinggung).

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Enaknya Jadi Penjahat (Napi) di Indonesia

Koran Kedaulatan Rakyat edisi Jum'at, 29 Januari 2009 memuat berita tentang "Boleh, Ruang Karaoke dalam Lapas, Asal....". Dalam berita itu sang Manteri Hukum dan HAM Patrialis Akbar sedang mengunjungi Rutan Kelas II A Yogyakarta. Seperti biasa saat seorang Menteri sedang melakukan kunjungan, pasti dia memberikan janji-janji untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat, janji-janji untuk perbaikan Indonesia kedepan, dan tak kalah pentingnya, biasanya tempat kunjungan diberi "jatah" uang rakyat dengan dalih sumbangan, padahal menurut saya itu hanya untuk citra baiknya saja. Memang tak dipungkiri, sekolah saya dulu juga seperti gitu, mendatangkan tokoh ke sekolah yang intinya untuk menyumbang pembangunan gedung, saat sang tokoh bersalah, tak ada kebencian, yang ada malah kata-kata "yah biarpun dia bersalah, tapi diapernah nyumbang kita lho". Hmmm, enak juga ya kalau punya uang banyak.

Tapi, ada janji yang menurut saya aneh yang di ungkapkan oleh Patrialis Akbar. Pertama, "Kita akan perjuangkan gaji petugas, paling lambat 2011" ujar Patrialis yang katanya guna mengurangi pungli dalam lapas. Hmmm, aneh, kenaikan gaji itu bukan berdasar pertimbangan bahwa memang para petugas itu harus mendapat gaji yang layak, tapi atas dasar supaya tidak ada pungli. Coba dipikir, klo gaji petugas lapas di naikkan gara-gara kemaren ada kasus sidak yang memergoki penjahat kelas kakap mendapat fasilitas mewah, maka, beberapa hari kemudian saya sarankan semua guru di Indonesia berhenti mengajar atau lakukanlah pungutan liar kepada para siswa supaya gaji para guru naik. Para buruh juga saya sarankan supaya kalian semua mogok kerja supaya gaji kalian naik. Bayangkan, klo kebijakan itu sampai dilaksanakan, implikasinya, semua akan menyontoh tindakan para petugas lapas tersebut. Saya bukannya tidak mendukung kenaikan gaji para petugas lapas tersebut, tapi waktu penerapan itu yang tidak tepat. Kenapa ada janji menaikkan saat sudah ada kasus? kenapa tidak sedari dulu dilakukan analisis apakah gaji sipir layak bagi mereka? Kalau dinaikkan karena mereka melakukan pungli, bisa-bisa elemen lain melakukan protes kenaikan gaji dengan cara yang sama. Kalau memang gaji sipir mau dinaikkan, kasih penjelasan kepada mereka bahwa ini bukan karena kasus pungli kemaren, tapi lebih karena mempertimbangkan kebutuhan para sipir. Dan jangan lupa, analisis juga UMR di masing daerah, analisis gaji guru. Jangan hanya menganalisis gaji DPR saja.

Kedua, Patrialis berharap akan ada Universitas yang membukan program sarjana di Lapas, dan juga ada pengusaha yang mau meneripa mantan napi sebagai pegawainya. Jika memang kebijkan tersebut beliau perjuangkan, saya juga akan lebih senang kalau jadi napi. Bayangkan lagi, tujuan mereka dijebloskan kedalam penjara adalah untuk membuat mereka jera, tapi ternyata malah di beri fasilitas. Hmmm...saya tak bisa memahami jalan pikiran Patrialis. Ini benar-benar dari hati nuraninya atau hanya untuk politik pencitraan saja? Ditambah lagi, Patrialis bilang, "Kalau memang dokter merekomendasikan perlu adanya AC di dalam lapas ya tidak apa-apa diadakan AC". Weleh, saya tidak habis pikir apa yang ada di otak Patrialis. Napi tapi dapat fasilitas AC? Bisa-bisa rakyat Indonesia banyak yang ingin jadi Napi. Lagi-lagi, enak juga ya jadi napi.

Ketiga, Patrialis bilang "Masalah ruang karaoke di dalam lapas tidak usah dipersoalkan, asalkan bisa digunakan oleh semua napi". Pernyataan yang aneh keluar lagi dari mulut Patrialis. Rakyat di Indonesia yang baik saja belum tentu mendapatkan fasilitas karaoke, tapi kenapa para napi saja malah disediakan? Pantas saja penjara di Indonesia sangat kekurangan daya tampung. Pasalnya di dalam penjara memang enak. Bisa saja kita meminta diadakan permainan lain asal bisa dinikmati bersama. Lama-lama, akan ada pasti napi yang minta pengadaan PlayStation. Ketiga kalinya saya menyebutkan, jadi napi memang enak.

Negara kita tercinta ini memang lama-lama dikuasasi oleh orang-orang yang aneh. Orang-orang yang suka mengutarakan janji-janji hanya untuk pencitraan dirinya. Bisa-bisanya berjanji akan memberikan fasilitas yang layak kepada para napi. Yang seharusnya jera masuk penjara, bisa jadi malah berubah jadi ketagihan. Yah, semoga Pak Patrialis bisa berfikir lagi sebelum berucap. Saya pikir dia orang cerdas yang mengerti apa yang harus dia lakukan dengan benar. Saya hanya bisa berdoa semoga Patrialis insaf. Terakhir, saya masih berpendapat, "Ternyata enak juga ya jadi Napi."

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Stephen King Story

By: Mochammad Asrori


Sudah baca Hearts in Atlantis? The Girls Who Loved Tom Gordon? Bag of Bones? The Green Mile? Kalau Anda tak sempat, tonton saja filmnya. Judul-judul yang saya sebut barusan hanyalah segelintir dari kinarya seorang Stephen Edwin King yang berhasil memikat Hollywood dengan thriller-thriller tulisannya. Tak heran bila orang kemudian menjulukinya sebagai raja cerita triller.

Sebagai novelis produktif,Stephen King selalu tak habis pikir dengan penulis lain yang hanya menghasilkan tiga—empat karya sepanjang hidupnya (sungguhpun akhirnya semua berstatus best seller). Dia sendiri saat ini telah menghasilkan lebih dari 30 buku best seller tingkat dunia. Berbagai penghargaan pun telah diraihnya. Penerima medali The National Book Foundation Medal 2003 untuk kontribusi berharganya dalam dunia tulis Amerika ini juga menjadi juri untuk Prize Stories: The Best of 1999 dan The O. Henry Award.

Stephen lahir pada tahun 1947 di Maine, Portland. Dia anak kedua dari Donald dan Nellie Ruth Pillsbury King. Saat orangtuanya bercerai, dia dan kakaknya dibesarkan sendiri oleh sang ibu. Sebagian masa kecilnya dihabiskan di Fort Wayne, Indiana dan Stratford, Connecticut, di mana dia lebih sering di dalam rumah ketimbang sekolah lantaran kesehatannya yang buruk.

Stephen punya seorang kakak yang sinting, namanya David. Bocah ini penuh ide-ide gila. Yang sedikit waras mungkin ide menerbitkan Dave Rag, koran lokal yang diurus dan dicetak sendiri oleh remaja kencur itu. Stephen terlibat. Biasanya sang adik disuruh menulis tentang cerita bersambung. Pada debut karir “profesionalnya” sebagai penulis fiksi itulah Stephen mulai mempelajari pasar majalah Writer’s Digest.

Stephen mengirimkan cerita asli pertamanya, Happy Stamp, ke Alfred Hitchcock’s Mystery Magazines (AHMM). Tiga minggu kemudian cerpen itu dikembalikan dengan slip penolakan. Stephen lalu memalu paku di dinding dan menusukkan slip penolakan tersebut. Putus asa? Jangan salah. Secara periodik, Stephen tetap mengirimkan ceritanya ke beberapa majalah. Sampai tahu-tahu paku di dindingnya tak muat lagi dengan slip-slip penolakan. Cerpen pertama Stephen yang menghasilkan uang adalah The Glass Floor di Starting Mystery Stories. Itu terjadi baru pada tahun 1967 kelak.

Aktivitas di Dave Rag mengantar Stephen terpilih sebagai editor koran sekolah, The Drum. Di sini dia mendapat pelajaran yang tidak pernah dilupakannya. Pertama, saat Stephen mulai menyenangi film-film horor, fiksi ilmiah, atau film-film tentang geng remaja, datanglah ilham mengubah film The Pit and The Pendulum ke dalam buku. Stephen lalu mencetaknya di Drum Press, dan menjual kopiannya dengan label penerbit VIB (Very Important Book). Kedua, saat bosan mengedit The Drum dia malah membuat korannya sendiri, The Village Vomit, yang berisi kabar-kabar fiktif dan lelucon tentang para guru.

Kedua ulah itu sama-sama membawanya dipanggil ke kantor Kepala Sekolah. Tentu karena telah menjadikan sekolah sebagai ajang berjualan, seenaknya mengubah tulisan yang punya hak cipta, plus menjelek-jelekken citra guru. Ditambah lagi salah satu gurunya, Miss Hisler, menganggapnya menyia-nyiakan bakatnya dengan tulisan-tulisan sampah itu. Walaupun dengan tulus meminta maaf, Stephen tetap diskors.

Seminggu kemudian, pihak konselor sekolah dibantu John Gould dari mingguan Lisbon menyuruh Stephen menjadi reporter olahraga di Lisbon. Menurut mereka, itu akan baik untuk mengarahkan penanya yang gelisah ke saluran yang lebih konstruktif. Di sana, Stephen mendapat pelajaran berharga mengenai menulis dari Gould:

Menulislah dengan pintu tertutup, lalu menulis ulanglah dengan pintu terbuka. Hasil karyamu mulanya memang hanya untukmu, tapi kemudian keluar menjadi milik siapa saja yang ingin membaca atau mengkritiknya. Tapi yang terpenting, sadarilah bahwa pasti akan ada orang yang mengatakan apa yang kau lakukan sia-sia. Tiap penulis mengalaminya.

Kemampuan menulis Stephen pun terus diasah. Saat masa-masa susah di bangku kuliah Universitas Maine, Orono, dia menulis kolom mingguan untuk koran kampus. Stephen juga terlibat dalam gerakan antiperang Vietnam, aktif di percaturan politik kampus, menjadi anggota senat kampus. Dan satu lagi: Bertemu Tabitha Spruce, seorang mahasiswi Maine juga, di perpustakaan.

Stephen lulus dari Maine tahun 1970 dengan gelar B.A., dan berkualifikasi untuk mengajar di SMA. Tapi berderet masalah ditemukan dalam daftar kesehatan kelulusannya. Mulai dari tekanan darah tinggi, penglihatan yang terbatas, kaki datar, dan masalah di gendang telinga. Pada tahun 1971, Stephen menikahi Tabitha. Padahal dia tidak juga menemukan pekerjaan mengajar.

Stephen pun bekerja sebagai buruh di perusahaan laundry, sementara Tabitha bekerja di Dunkin’ Donuts. Dari sanalah keluarga King mengepulkan asap dapur, ditambah dengan uang pinjaman, tabungan, juga upah menulis cerpen di majalah-majalah pria. Sepanjang tahun awal-awal pernikahannya, Stephen terus menjual cerpen. Cerita-cerita tersebut kemudian dikumpulkan dalam koleksi Night Shift, atau dalam beberapa antologi.

Pada musim gugur 1971, Stephen mulai mengajar Business English SMA di Hampden Academy dengan gaji 6.400 dolar setahun. Tapi keadaan ekonomi keluarganya tidak kunjung membaik. Beberapa waktu keluarga itu tinggal di trailer besar tanpa telepon (mereka tak mampu membayar tagihannya). Namun Stephen terus menulis. Saat petang di akhir pekan, dia terus menghasilkan cerpen-cerpen, sambil menggarap novel Carrie, novel keempatnya setelah Rage, The Long Walk, dan The Runing Man.

Barulah di musim semi 1973, Stephen mendapat telegram dari Bill Thompson yang memberitahu bahwa Doubleday & Co. mau membeli novel Carrie. Stephen mendapat 2.500 dolar sebagai uang muka. Uang ini kemudian dibelanjakannya untuk mobil, sewa apatemen sederhana 90 dolar per bulan, dan memasang telepon lagi, sembari membayangkan bila novelnya dicetak dalam edisi paperback yang menawarkan keuntungan besar dan mengantarnya menjadi penulis penuh. Tapi novelnya tak kunjung terbit. Dia pun kembali pada rutinitasnya mengajar.

Di akhir musim panas 1973, Keluarga King pindah ke Selatan Maine karena ibunya jatuh sakit. Saat musim dingin, dia menyewa sebuah rumah musim panas di danau Sebago, Windham Utara, Stephen menulis novel di sebuah ruang kecil di garasi yang judul aslinya Second Coming and The Jerusalem’s Lot, namun akhirnya menjadi Salem’s Lot.

Pada Hari Ibu tahun 1973, tanpa diduga Bill Thompson dari Doubleday meneleponnya lagi. Beritanya, hak paperback untuk Carrie terjual ke Signet Books senilai 400.000 dolar, dan Stephen berhak menerima setengahnya. Angka yang menggiurkan. Tapi justru selama masa yang mulai menyenangkan tersebut, ibunya meninggal di usia 59 karena kanker.

Di musim gugur tahun yang sama keluarga King pindah ke Boulder, Colorado, dan tinggal di sana kurang dari setahun selama penulisan The Shining yang mengambil setting Colorado. Kembali ke Maine tahun 1975 dan membeli sebuah rumah di daerah bagian Barat danau Maine. Di rumah itulah Stephen selesai menulis The Stand, yang juga bersettingkan Boulder.

Keluarga King mencoba tinggal di Inggris pada tahun 1977 dalam waktu lama, namun baru tiga bulan, mereka memutuskan memotong waktu tinggal mereka dan membeli rumah baru di Center Lovell, Maine, pada pertengahan Desember. Setelah tinggal selama musim panas mereka kembali pindah ke Orrington, dekat Bangor, sehingga Stephen dapat mengajar penulisan kreatif di Universitas Maine, Orono.

Stephen membeli rumah kedua di sana dan menyewakan rumah di Center Lovell. Lantaran anak-anaknya mulai dewasa, dia dan istrinya sering menghabiskan musim dingin di Florida dan sisanya sepanjang tahun di Bangor dan Center Lovell. Mereka memiliki tiga anak, Anaomi Rachel, Joe Hill, dan Owen Philip, dan tiga orang cucu.

Dia mengambil beberapa teman kuliah yang berpengalaman di bidang drama untuk bermain di beberapa film yang mengadaptasi karyanya. Anaknya, Joe Hill, pun tampil di Creepshow yang dirilis tahun 1982. Stephen membuat debut penyutradaraan sebaik menulis naskah screenplay untuk film Maximum Overdrive yang mengadaptasi cerpennya, Truck (1985). Sampai sini, Stephen bukan lagi orang yang hidup susah. Nama Stephen King sudah menjadi jaminan novel-novel laris. Dia pun diundang di mana-mana, baik sebagai pembicara yang membahas penulisan fiksi maupun untuk pembacaan beberapa bagian novelnya di depan publik.

Stephen selalu mengandaikan pekerjaan menulis dengan pekerjaan pamannya yang tukang kayu. Paman Oren memiliki kotak perkakas kayu buatan tangan yang terdiri dari tiga tingkat. Walau berat, pamannya itu selalu membawa kotak perkakasnya lengkap, meski hanya untuk pekerjaan mudah.

Stephen pernah menanyakan masalah itu, mengapa membawa-bawa kotak perkakas keliling rumah padahal yang dia butuhkan cuma satu obeng. Coba dengar apa jawaban pamannya, “Ya. Tapi, Stevie, aku tidak tahu apa lagi yang akan kutemukan begitu aku sampai di sini, iya kan? Yang paling tepat adalah membawa semua peralatan. Jika tidak, kau biasanya akan menemukan sesuatu yang tidak kau harapkan dan jadi kecewa.”

Menurut Stephen, untuk menghasilkan tulisan terbaik, seorang penulis harus memiliki kotak perkakasnya sendiri, lalu mengerahkan segenap tenaga untuk mengangkat kotak perkakas tersebut. Selanjutnya, mengambil peralatan yang tepat untuk memulai menulis. Kotak perkakas penulis paling atas bisa jadi adalah kosakata, tata bahasa, dan sekelumit hal-hal di dalamnya.

Tapi yang terpenting untuk jadi penulis tentu saja banyak membaca dan banyak menulis. Dan jangan terlalu banyak menyaksikan tayangan televisi. Persaingan ketat untuk menjadi trend setter telah membuat televisi gagap dan terpaksa menjual program-program bermutu rendah. Televisi secara langsung telah membelusukkan masyarakat ke pola budaya instan, banyak omong, konsumerisme, gaya hidup mengharap pamrih hadiah.

Televisi datang relatif terlambat di rumah keluarga King, dan aku bersyukur karenanya. Aku, jika kau mau berhenti sejenak untuk merenungkannya, adalah anggota kelompok yang cukup terpilih: Sejumput novelis Amerika yang belajar membaca dan menulis sebelum mereka belajar menyantap sajian sampah televisi yang cenderung merugikan. Bila kau baru memulai menjadi penulis, dengan pengaruh televisi, engkau bisa bertindak lebih buruk ….

Ketika ditanya lebih lanjut rahasia kesuksesannya, Stephen biasa menjawab, “Ada dua: Berusaha tetap sehat secara fisik, dan mempertahankan perkawinan.” Bagaimanapun, kombinasi tubuh yang sehat dan hubungan yang stabil dengan seorang wanita telah membawa pabrik naskah itu terus berproduksi.

sumber: www.warungfiksi.net

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Enak kali ya jadi penulis tu...?



Setiap manusia ga bisa dipungkiri pasti selalu punya masalah. Selesai masalah yang satu pasti akan muncul masalah yang lain. Itu sebuah keharusan memang, karena manusia perlu sebuah pembuktian dari kayakinannya. Setiap masalah yang ia miliki adalah ajang pembuktian jati dirinya apakah dia bisa menyelesaikan masalah itu dengan keyakinannya.
Dan setiap orang punya cara-cara tersendiri dalam menyelesaikan masalahnya.Namun, tak bisa dipungkiri lagi, setiap orang pasti perlu berbagi. Berbagi kepada orang lain tentang masalah-masalahnya, meskipun sebenarnya dia yang paling tau tentang cara memesahkan
masalahnya. Tapi, keberadaan orang lain untuk tempat berbagi sangatlah penting. Seakan perasaan jadi tenang jika sudah berbagi dengan orang lain, meskipun terkadang masalah itu sendiri tidak terselesaikan. (Foto: Stephen King)




Nah, yang bikin susah, kadang kita harus memilih orang seperti apa yang pantas kita ajak berbagi. Tidak semua orang bisa menjaga rahasia, tidak semua orang pandai dan mau mendengarkan keluh kesah kita. Dan akhirnya, karena sulit menemukan orang yang tepat, masalah kita pendam sendiri. Memendam masalah kadang menjadi masalah tersendiri bagi seseorang. Ia akan tampak murung, tidak semangat, tidak antusias, dia mati sebelum mati. Dan ini kadang bahaya, orang-orang yang suka memendam masalah bisa benar-benar emosional saat merasa tersinggung, dan pasti orang seperti ini akan di asingkan. (Foto: JK. Rowling)

Mungkin, orang-orang seperti itu, yang susah menemukan orang untuk berbagi, perlu belajar menulis. Entah itu menulis cerita khayalan maupun menulis artikel. Karena dengan menulis, dia bisa berbagi dalam tulisannya. Dia bisa menceritakan masalahnya dalam tulisannya. Dan akhirnya, kalau dia berfikir ingin berbagi dengan orang lain supaya bisa membaca tulisannya, dia cukup dengan mempublikasikannya. Toh yang terpenting, dia sudah bisa berbagi masalahnya dengan tulisannya. Kalaupun tulisan itu sangat rahasia, ya cukup dia saja yang tau tanpa harus dipublikasikan. Intinya, menulis bisa jadi salah satu tempat untuk berbagi.

Enak kali ya jadi penulis tu...?hehehe

(belajar jadi penulis ah...) :-)

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS